Rumah petak berukuran 3x7 yang dihuni enam orang anak asuh rata rata berstatus pelajar SD dan SMP di Jalan Lokomotif, Kelurahan Sekip, Kecamatan Limapuluh mendapat kunjungan dari Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Ir Nofrizal MM bersama Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Khairani, Kamis (19/10).
Dalam kunjungan ini, enam orang anak yang diasuh lantaran rata rata ditinggal orang tua ini terancam putus sekolah karena kurangnya biaya bagi pendidikan mereka.
Bahkan sesuai keterangan Sahrial (47) pengasuh enam anak yang rata rata ditinggal mati orang tua dan ada yang ditnggal pergi tanpa kabar berita ini terancam putus sekolah, lantaran kurang mampu untuk membiayai pendidikan mereka.
Dalam kunjungan itu Nofrizal beserta Kadissos langsung berbincang bincang dengan Sahrial beserta enam orang anak asuhnya yang tinggal sehari-sehari di rumah semi permanen itu.
Dari perbincangan tersebut, diketahui jika untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari hari Sahrial mengaku masih sanggup untuk mengadakan, namun untuk biaya pendidikan yang kini menjadi soal. Karena ia mengaku khawatir jika nanti anak-anak ini harus mengalami putus sekolah karena tidak adanya biaya.
Enam orang anak yang kini diasuh Sahrial dintaranya masih berpendidikan SD dan SMP.seperti M Rio (11) Kelas 3 SD Attaibah, M Azwan (8) Kelas 1 SD, Bayu Bujana (15) Kelas 1 SMU, Banu Humarram Kelas 1 Smp 10, Baim Sugalih, Kelas 6 dan Bima Fauzan, kelas 2 SD.
"Saya berharap agar anak anak ini masih dapat terus bersekolah. atau berpendidikan lanjut. Saya asuh mereka lantaran anak anak ini masih warga disini. kalau untuk makan masih bisa diusahakan. Untuk biaya pendidikan aja saya yang khawatir," kata Sahrial menjawab pertanyaan wartawan.
Menaggapi hal ini, Nofrizal berharap agar hal ini menjadi perhatian pemerintah, karena soal pendidikan untuk masyarakat jelas menjadi tanggung jawab pemerintah.
Maka itu kata Nofrizal, sangat penting adanya data masyarakat khususnya kota Pekanbaru yang membutuhkan bantuan. Karena sangat besar kemungkinan bagi pemerintah untuk membuat sebuah terobosan dalam membuat suatu kegitan, sepeeri Bantuan Langsung Tunai Daerah.
Nofrizal ikut mengajak dinas sosial, agar dinas sosial dapat mendata dan melihat kondisi nya. Minimal Dinsos bisa memberikan rekomendasi bahwa perlu dibantu, untuk kesehatan bila perlu dapat diberikan jamkesda.
"Kita mendorong supaya lembaga-lembaga yang dibentuk pemeritah dapat mendata, melihat masalah masyarakat, sehingga kita bisa mendorong untuk dapat diberikan kepada masyarakat tidak mampu. Bila perlu kita rancang dalam bentuk peraturan daerah atau perwako sehingga nanti payung hukumnya jelas. Kita masukkan dalam apbd agar bisa dianggarkan. Minimal, meskipun sedikit tapi ada bentu bantuan untuk masyarakat, seperti BLT."imbuhnya. ***
Dalam kunjungan ini, enam orang anak yang diasuh lantaran rata rata ditinggal orang tua ini terancam putus sekolah karena kurangnya biaya bagi pendidikan mereka.
Bahkan sesuai keterangan Sahrial (47) pengasuh enam anak yang rata rata ditinggal mati orang tua dan ada yang ditnggal pergi tanpa kabar berita ini terancam putus sekolah, lantaran kurang mampu untuk membiayai pendidikan mereka.
Dalam kunjungan itu Nofrizal beserta Kadissos langsung berbincang bincang dengan Sahrial beserta enam orang anak asuhnya yang tinggal sehari-sehari di rumah semi permanen itu.
Dari perbincangan tersebut, diketahui jika untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari hari Sahrial mengaku masih sanggup untuk mengadakan, namun untuk biaya pendidikan yang kini menjadi soal. Karena ia mengaku khawatir jika nanti anak-anak ini harus mengalami putus sekolah karena tidak adanya biaya.
Enam orang anak yang kini diasuh Sahrial dintaranya masih berpendidikan SD dan SMP.seperti M Rio (11) Kelas 3 SD Attaibah, M Azwan (8) Kelas 1 SD, Bayu Bujana (15) Kelas 1 SMU, Banu Humarram Kelas 1 Smp 10, Baim Sugalih, Kelas 6 dan Bima Fauzan, kelas 2 SD.
"Saya berharap agar anak anak ini masih dapat terus bersekolah. atau berpendidikan lanjut. Saya asuh mereka lantaran anak anak ini masih warga disini. kalau untuk makan masih bisa diusahakan. Untuk biaya pendidikan aja saya yang khawatir," kata Sahrial menjawab pertanyaan wartawan.
Menaggapi hal ini, Nofrizal berharap agar hal ini menjadi perhatian pemerintah, karena soal pendidikan untuk masyarakat jelas menjadi tanggung jawab pemerintah.
Maka itu kata Nofrizal, sangat penting adanya data masyarakat khususnya kota Pekanbaru yang membutuhkan bantuan. Karena sangat besar kemungkinan bagi pemerintah untuk membuat sebuah terobosan dalam membuat suatu kegitan, sepeeri Bantuan Langsung Tunai Daerah.
Nofrizal ikut mengajak dinas sosial, agar dinas sosial dapat mendata dan melihat kondisi nya. Minimal Dinsos bisa memberikan rekomendasi bahwa perlu dibantu, untuk kesehatan bila perlu dapat diberikan jamkesda.
"Kita mendorong supaya lembaga-lembaga yang dibentuk pemeritah dapat mendata, melihat masalah masyarakat, sehingga kita bisa mendorong untuk dapat diberikan kepada masyarakat tidak mampu. Bila perlu kita rancang dalam bentuk peraturan daerah atau perwako sehingga nanti payung hukumnya jelas. Kita masukkan dalam apbd agar bisa dianggarkan. Minimal, meskipun sedikit tapi ada bentu bantuan untuk masyarakat, seperti BLT."imbuhnya. ***
Komentar
Posting Komentar