Selama tiga hari mendapatkan pelajaran tentang Tunjuk Ajar Melayu, dari tokoh-tokoh budaya melayu Riau banyak ilmu yang di dapat oleh para pelajar SMP/SMA se-Provinsi Riau. Dari tidak tau tentang budaya melayu Riau menjadi tau.
Seperti yang diceritakan Yua Molek, salah seorang pelajar SMK 1 Pariwisata, Kabupaten Kuantan Singingi, tidak menyangka dirinya menjadi salah satu pelajar dari Riau mendapatkan ilmu pengetahuan tentang budaya melayu Riau dari Dinas Kebudayaan Riau melalui sosialisasi tunjuk ajar melayu.
Selama ini, ia mengetahui kebudayaan melayu Riau hanya pada tradisi pernikahan, yang didapat di pelajaran sekolah. Bahkan, Yua Molek baru mengetahui tunjuk ajar melayu, menjadi pedoman masyarakat Melayu dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
"Banyak hal tentang budaya Melayu yang baru saya ketahui, setelah mendapatkan pembelajaran dari ahli-ahli budaya Riau. Selama ini kami hanya mendapatkan dari guru olahraga yang di berdayakan menjadi guru budaya Melayu," kata Yua Molek, yang duduk di bangku kelas 2 ini, pada malam penutupan, Selasa (29/8).
"Dari budaya Melayu yang selama ini saya tidak tau menjadi tau. Mulai dari nilai-nilai tunjuk ajar melayu, norma-norma dalam menjalani kehidupan budaya melayu. Kalau di sekolah kami hanya mendapatkan tentang pernikahan saja," cerita Yua.
Selama menimba ilmu tentang tunjuk ajar melayu, ada yang paling berkesan dan menginsiprasi dirinya untuk lebih ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya melayu. Yakni bertemu langsung dengan pencipta tari Persembahan, OK Nizami Jamil. Tari yang selalu menjadi penyambut tamu-tamu kehormatan dalam setiap acara.
"Yang paling menginspirasi saya itu Pak OK Nizami Jamil, walau usia sudah tua tapi ia masih bisa mengajarkan kami menari. Ternyata beliau pencipta tari persembahan, waktu sekolah kami hanya tau menari saja, tapi sekarang langsung bertemu dengan peciptanya. Kalau anak-anak sekarangkan tak peduli, dengan tari persembahan dan saya bertekat akan mengembangkan ilmu yang saya dapat ini kepada kawan-kawan di sekolah dan bagi masyarakat Riau," kata Yua, yang bercita-cita menjadi disigner ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Yoserizal Zein, saat menutup acara tersebut, berharap melalui sosialisasi tunjuk ajar melayu akan semakin mengingatkan para generasi muda kedepan. Betapa pentingnya, mempertahankan budaya melayu Riau.
"Masalah nilai budaya sudah diterima oleh pelajar-pelajar Riau, tentunya kita berharap tunjuk ajar melayu ini tidak dilupakan dan tidak terkikis. Mulai Persoalan sosial tata krama dan sopan santun sudah mereka terima. Dari sosialisai tunjuk ajar melayu ini, diharapkan bisa diimplementasikan oleh seluruh pelajar se Riau ini," ungkap mantan Kepala BPAD Riau ini.
Ditambahkan Yose, para pelajar se Riau ini, juga akan ikut mendorong rencana Pemprov Riau yang akan mengajukan Tunjuk ajar Melayu ini masuk sebagai peninggalan budaya Dunia. Setelah Pemerintah pusat melalui Kemendikbud telah mensahkan tunjuk ajar melayu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
"Tunjuk ajar melayu telah disahkan sebagai WBTB Indonesia. Kedepan kita akan mencoba ajukan sebagai warisan budaya Dunia. Setelah Pantun yang telah masuk di Unesco menunggu pengesahan. Dan untuk sosialisasi ini perlu kita berikan kepada pelajar agar tunjuk ajar ini tetap lestari," kata Yoserizal.
Untuk diketahui, sosialaisasi tunjuk ajar melayu ini berlangsung selama tiga hari di Hotel Alpha, Pekanbaru, yang diikuti pelajar SMP dan SMA se-Provinsi Riau. Dengan menghadirkan enam narasumber. Di antaranya, budayawan, Taufik Ikram Jamil, Ok Nizami Jamil, Zulkifli ZA, Fakrunnas MA Jabar dari sastrawan dan Tuan Guru Syafruddin Saleh. Masing-masing narasumber telah memberikan materi pembelajaran sesuai dengan ahlinya.***
Seperti yang diceritakan Yua Molek, salah seorang pelajar SMK 1 Pariwisata, Kabupaten Kuantan Singingi, tidak menyangka dirinya menjadi salah satu pelajar dari Riau mendapatkan ilmu pengetahuan tentang budaya melayu Riau dari Dinas Kebudayaan Riau melalui sosialisasi tunjuk ajar melayu.
Selama ini, ia mengetahui kebudayaan melayu Riau hanya pada tradisi pernikahan, yang didapat di pelajaran sekolah. Bahkan, Yua Molek baru mengetahui tunjuk ajar melayu, menjadi pedoman masyarakat Melayu dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
"Banyak hal tentang budaya Melayu yang baru saya ketahui, setelah mendapatkan pembelajaran dari ahli-ahli budaya Riau. Selama ini kami hanya mendapatkan dari guru olahraga yang di berdayakan menjadi guru budaya Melayu," kata Yua Molek, yang duduk di bangku kelas 2 ini, pada malam penutupan, Selasa (29/8).
"Dari budaya Melayu yang selama ini saya tidak tau menjadi tau. Mulai dari nilai-nilai tunjuk ajar melayu, norma-norma dalam menjalani kehidupan budaya melayu. Kalau di sekolah kami hanya mendapatkan tentang pernikahan saja," cerita Yua.
Selama menimba ilmu tentang tunjuk ajar melayu, ada yang paling berkesan dan menginsiprasi dirinya untuk lebih ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya melayu. Yakni bertemu langsung dengan pencipta tari Persembahan, OK Nizami Jamil. Tari yang selalu menjadi penyambut tamu-tamu kehormatan dalam setiap acara.
"Yang paling menginspirasi saya itu Pak OK Nizami Jamil, walau usia sudah tua tapi ia masih bisa mengajarkan kami menari. Ternyata beliau pencipta tari persembahan, waktu sekolah kami hanya tau menari saja, tapi sekarang langsung bertemu dengan peciptanya. Kalau anak-anak sekarangkan tak peduli, dengan tari persembahan dan saya bertekat akan mengembangkan ilmu yang saya dapat ini kepada kawan-kawan di sekolah dan bagi masyarakat Riau," kata Yua, yang bercita-cita menjadi disigner ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Yoserizal Zein, saat menutup acara tersebut, berharap melalui sosialisasi tunjuk ajar melayu akan semakin mengingatkan para generasi muda kedepan. Betapa pentingnya, mempertahankan budaya melayu Riau.
"Masalah nilai budaya sudah diterima oleh pelajar-pelajar Riau, tentunya kita berharap tunjuk ajar melayu ini tidak dilupakan dan tidak terkikis. Mulai Persoalan sosial tata krama dan sopan santun sudah mereka terima. Dari sosialisai tunjuk ajar melayu ini, diharapkan bisa diimplementasikan oleh seluruh pelajar se Riau ini," ungkap mantan Kepala BPAD Riau ini.
Ditambahkan Yose, para pelajar se Riau ini, juga akan ikut mendorong rencana Pemprov Riau yang akan mengajukan Tunjuk ajar Melayu ini masuk sebagai peninggalan budaya Dunia. Setelah Pemerintah pusat melalui Kemendikbud telah mensahkan tunjuk ajar melayu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
"Tunjuk ajar melayu telah disahkan sebagai WBTB Indonesia. Kedepan kita akan mencoba ajukan sebagai warisan budaya Dunia. Setelah Pantun yang telah masuk di Unesco menunggu pengesahan. Dan untuk sosialisasi ini perlu kita berikan kepada pelajar agar tunjuk ajar ini tetap lestari," kata Yoserizal.
Untuk diketahui, sosialaisasi tunjuk ajar melayu ini berlangsung selama tiga hari di Hotel Alpha, Pekanbaru, yang diikuti pelajar SMP dan SMA se-Provinsi Riau. Dengan menghadirkan enam narasumber. Di antaranya, budayawan, Taufik Ikram Jamil, Ok Nizami Jamil, Zulkifli ZA, Fakrunnas MA Jabar dari sastrawan dan Tuan Guru Syafruddin Saleh. Masing-masing narasumber telah memberikan materi pembelajaran sesuai dengan ahlinya.***
Komentar
Posting Komentar