Sebagai bentuk implementasi dari perubahan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) di Riau, seharusnya kalangan pelajar dan netizen di Provinsi Riau bisa bijaksana dalam menggunakan media sosial (medsos).
Demikian disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau, Ahyu Suhendra, saat membuka Sosialisasi GNRM sekaligus pelatihan medsos bersama pelajar dan netizen.
Kegiatan inisiasi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), dan Disdik Riau yang dilaksanakan hingga Rabu besok.
"Kita mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Kemenko PMK tersebut di Riau. Kita harapkan, para pelajar dan netizen daerah kita dalam menggunakan medsos dapat lebih bijaksana. Gunakan bahasa yang baik dan sopan, serta idak memprovakasi dan pornografi di medsos," ujar Ahyu, Selasa (22/8).
Menurutnya, revolusi mental ini penting ditanamkan kepada setiap pelajar maupun netizen, atau generasi muda dalam menyikapi perkembangan digital yang semakin marak saat ini. Sehingga mereka dalam melangkah atau pun bersikap dapat mengembangkan nilai positifnya.
"Medsos saat ini banyak digunakan sebagai wadah paling bebas mengekspresikan diri oleh kalangan generasi muda. Namun, dari sekian banyak dampak positif yang dihasilkan medsos tapi keberadaannya juga bisa digunakan ke arah negatif. Makanya, penanaman dan pengembangan karakter yang baik penting ditanamkan kepada generasi muda," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kabid Pengembangan Sumber Daya Kemenko PMK, Melkianus Kebos, mengatakan, saat ini banyak pelajar maupun netizen menjadi korban sekaligus pelaku hoax.
"Untuk itu, dalam menggunakan medsos dapat memperhatikan kredibilitas sumber berita sebelum menyebarkan ke orang lain. Apabila kredibilitas sumber belum diketahui, lebih baik memikirkan apakah ada manfaat untuk menyebarkannya," katanya.
Apabila ada pesan yang benar tapi berdampak negatif, Melkianus mengimbau, netizen untuk mengabaikannya. "Pesan yang benar, baik dan bermanfaat," katanya, seraya mengatakan, kegiatan ini dilakukan seluruh Indonesia.
Sebagai media umum, Melkianus berharap, netizen tidak menyampaikan isi hati di media sosial secara berlebihan. Hal ini untuk mengantisipasi kejahatan dunia maya. "Kita harapkan juga kalangan pelajar dan netizen dapat berkontribusi menyebarkan ajakan perubahan melalui #AYOBERUBAH dapat diviralkan dan menjadi contoh baik dalam menginformasikan berbagai hal terkait Melayani, Bersih, Tertib, Mandiri dan Bersatu," pungkasnya.***
Demikian disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau, Ahyu Suhendra, saat membuka Sosialisasi GNRM sekaligus pelatihan medsos bersama pelajar dan netizen.
Kegiatan inisiasi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), dan Disdik Riau yang dilaksanakan hingga Rabu besok.
"Kita mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Kemenko PMK tersebut di Riau. Kita harapkan, para pelajar dan netizen daerah kita dalam menggunakan medsos dapat lebih bijaksana. Gunakan bahasa yang baik dan sopan, serta idak memprovakasi dan pornografi di medsos," ujar Ahyu, Selasa (22/8).
Menurutnya, revolusi mental ini penting ditanamkan kepada setiap pelajar maupun netizen, atau generasi muda dalam menyikapi perkembangan digital yang semakin marak saat ini. Sehingga mereka dalam melangkah atau pun bersikap dapat mengembangkan nilai positifnya.
"Medsos saat ini banyak digunakan sebagai wadah paling bebas mengekspresikan diri oleh kalangan generasi muda. Namun, dari sekian banyak dampak positif yang dihasilkan medsos tapi keberadaannya juga bisa digunakan ke arah negatif. Makanya, penanaman dan pengembangan karakter yang baik penting ditanamkan kepada generasi muda," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kabid Pengembangan Sumber Daya Kemenko PMK, Melkianus Kebos, mengatakan, saat ini banyak pelajar maupun netizen menjadi korban sekaligus pelaku hoax.
"Untuk itu, dalam menggunakan medsos dapat memperhatikan kredibilitas sumber berita sebelum menyebarkan ke orang lain. Apabila kredibilitas sumber belum diketahui, lebih baik memikirkan apakah ada manfaat untuk menyebarkannya," katanya.
Apabila ada pesan yang benar tapi berdampak negatif, Melkianus mengimbau, netizen untuk mengabaikannya. "Pesan yang benar, baik dan bermanfaat," katanya, seraya mengatakan, kegiatan ini dilakukan seluruh Indonesia.
Sebagai media umum, Melkianus berharap, netizen tidak menyampaikan isi hati di media sosial secara berlebihan. Hal ini untuk mengantisipasi kejahatan dunia maya. "Kita harapkan juga kalangan pelajar dan netizen dapat berkontribusi menyebarkan ajakan perubahan melalui #AYOBERUBAH dapat diviralkan dan menjadi contoh baik dalam menginformasikan berbagai hal terkait Melayani, Bersih, Tertib, Mandiri dan Bersatu," pungkasnya.***
Komentar
Posting Komentar