Langsung ke konten utama

Pembangunan Fly Over di Mal SKA Pekanbaru, Belum Diketahui Ruas Jalan Mana Dibangun Fly Over

Selain belum mengetahui terkait perencanaan teknisnya, Komisi IV DPRD Riau juga belum mengetahui ruas jalan mana yang nantinya akan dibangun fly over atau jembatan layang di simpang Mal SKA Pekanbaru nantinya.

Di lokasi tersebut, terdapat dua ruas jalan, yang sehari-harinya kerap dipenuhi kendaraan yang melintas. Dua jalan tersebut, yakni Jalan Tuanku Tambusai, dan Jalan Soekarno-Hatta. Masing-masing jalan statusnya berbeda, yaitu ada yang berstatus jalan provinsi dan ada berstatus jalan nasional.

"Pertanyaannya, fly over itu kita bangun di ruas Jalan Tuanku Tambusai atau di ruas Jalan Soekarno-Hatta? Itu yang kita belum tahu persis. Kalau (Jalan) Soekarno-Hatta itu (jalan) nasional. Kalau (Jalan) Tuanku Tambusai itu (jalan) provinsi," ungkap Ketua Komisi IV DPRD Riau, Hardiyanto kepada Haluan Riau, Minggu (20/8).

Terkait hal ini tentunya berpengaruh terhadap pihak mana yang lebih bertanggungjawab dalam penganggaran dan pelaksana pembangunan. Jika jalan tersebut berstatus jalan nasional, tentu dibangun oleh pemerintah pusat dengan menggunakan APBN. Sedangkan jalan itu jalan provinsi dibangun oleh Pemerintah Provinsi Riau melalui APBD Riau.

Seperti diketahui, pembangunan infrastruktur yang disebut-sebut sebagai solusi mengatasi kemacetan di lokasi tersebut telah masuk ke dalam draf Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Riau tahun 2018. Meskipun hal itu tidak sinkron dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Riau tahun 2014-2019. Ketidaksinkronan ini membuat Badan Anggaran DPRD Riau telah melakukan konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri.

"Saya rasa tidak ada persoalan pada RPJMD pada proyek fly over. Bahkan di KUA-PPAS 2018 kemarin sudah masuk dua fly over, yang di simpang (Mal) SKA dan simpang Pasar Pagi arengka. Tapi fokus penyelesaian di 2018 itu ada di (simpang Mal) SKA," kata Hardiyanto beberapa waktu lalu.

Meski begitu, sebutnya, hingga kini komisi yang membidangi infrastruktur itu belum mengetahui soal perencanaan teknis pembangunan fly over itu. Hal ini disebabkan adanya pembangunan pusat perbelanjaan, Living World Pekanbaru, yang berada tepat di persimpangan Jalan Tuanku Tambusai-Jalan Soekarno Hatta.

"Karena dengan adanya Living World itu pasti nanti perencanaan itu berubah. Karena kabarnya ruang yang tersedia untuk pembangunan fly over sesuai perencanaan awal itu tidak mungkin lagi terlaksana. Artinya harus ada revisi DED (Detail Engineering Design atau atau gambar kerja,red)," lanjutnya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa hal itu tidak harus menjadi halangan untuk merealisasikan rencana itu. Menurutnya, DED itu bisa dilakukan revisi dan anggarannya bisa dimasukkan ke dalam APBD Perubahan tahun 2017, atau di APBD Murni tahun 2018. Yang penting, tegas Hardiyanto, dirinya berharap fly over itu bisa selesai di tahun 2018 mendatang.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Riau, Noviwaldy Jusman, menyayangkan apabila rencana Pemerintah Provinsi Riau membangun fly over di simpang Mal SKA itu menggunakan APBD Riau. Alangkah baiknya, kata Politisi yang akrab disapa Dedet itu, uang ratusan miliar rupiah dari APBD yang direncanakan digelontorkan untuk pembangunan fly over, digunakan untuk membangun proyek pengendali banjir di Kota Pekanbaru. Hal itu, menurutnya, akan lebih bermanfaat bagi masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya yang kerap mengalami kebanjiran setiap hujan turun.

"Anggaran yang ratusan miliar untuk membangun itu (fly over di SKA), saya lebih menyarankan, lebih menginginkan, membuat dan membangun jaringan drainase, dan pengendali banjir di Kota Pekanbaru. Itu jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat Pekanbaru," sebut Dedet.

"Kemudian untuk fly over, kita minta dana pusat. Mengapa? Karena jalannya bukan jalan kita. Jalan itu statusnya jalan negara. Ngapain kita bikin pakai uang kita. Uang kita ini kita gunakan membantu masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya yang sering menderita banjir, membangun waduk. Biarkanlah ini (fly over,red) negara yang bayar. Jangan kita ulangi kesalahan kita gaya-gayaan mengaspal jalan Pekanbaru-Bangkinang," sambungnya.

Ketidakmampuan melakukan lobi ke Pemerintah Pusat ditengarai sebagai penyebab Pemprov Riau tidak mampu membawa dana pusat ke Riau. Walaupun sejumlah pejabat Pemprov Riau kerap bolak-balik ke Jakarta, namun tidak memberikan dampak apa-apa bagi pembangunan Riau.***

Komentar

Popular Post

HAKLI Riau Dikukuhkan, Bambang: Jadikan Media Berantas Penyakit Lingkungan

Wakil Ketua III Ketua Umum Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (Hakli) Indonesia, Bambang Lukisworo secara resmi melantik pengurus HAKLI Riau periode 2017-2022, dengan ketua terpilih Erdinal Erdinal, SKM. MKM, Kamis (19/10) di Hotel Premiere. Pelantikan tersebut turut disaksikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Riau, Mimi Yuliani Nazir, Dirut RSUD Arifin Ahmad dan juga ratusan tenaga kesehatan di Riau. Dalam sambutannya, Bambang mengatakan bahwa keberadaan HAKLI sangatlah dibutuhkan sebagai media bagi para tenaga kesehatan untuk melakukan berbagai informasi terkait dengan kesehatan lingkungan. Menurutnya, saat ini masalah kesehatan semakin komplek, dengan dua tantangan yang harus dihadapi diantaranya masalah penyakit tradisional seperti penyakit menular. Selain itu, penyakit yang disebabkan lingkungan juga banyak terjadi di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk dapat menjaga pola hidup sehat. Serta peran tenaga kesehatan tentunya sangat dibutuh...

Kunjungi Warga Miskin , Dewan Harap Pemerintah Berikan Perhatian Soal Pendidikan

Rumah petak berukuran 3x7 yang dihuni enam orang anak asuh rata rata berstatus pelajar SD dan SMP di Jalan Lokomotif, Kelurahan Sekip, Kecamatan Limapuluh mendapat kunjungan dari Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Ir Nofrizal MM bersama Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Khairani, Kamis (19/10). Dalam kunjungan ini, enam orang anak yang diasuh lantaran rata rata ditinggal orang tua ini terancam putus sekolah karena kurangnya biaya bagi pendidikan mereka. Bahkan sesuai keterangan Sahrial (47) pengasuh enam anak yang rata rata ditinggal mati orang tua dan ada yang ditnggal pergi tanpa kabar berita ini terancam putus sekolah, lantaran kurang mampu untuk membiayai pendidikan mereka. Dalam kunjungan itu Nofrizal beserta Kadissos langsung berbincang bincang dengan Sahrial beserta enam orang anak asuhnya yang tinggal sehari-sehari di rumah semi permanen itu. Dari perbincangan tersebut, diketahui jika untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari hari Sahrial mengaku masih sanggup untuk menga...

Mito T59, Tabletnya Anak Muda

Sejak diluncurkan beberapa bulan lalu, tablet Mito T59 Fantasy disambut hangat masyarakat Riau, khususnya Pekanbaru. Hal ini, tak lain karena harga yang ditawarkan cukup terjangkau. ''Untuk Mito T59 Fantasy ini harganya cukup terjangkau. Apalagi saat ini lagi turun harga, dari Rp799.000 menjadi Rp759.000,'' ungkap Supervisor Unistar Seluler Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru Ferrydai, kepada Haluan Riau, kemarin. Untuk desain Mito T59 Fantasy, tablet ini terlihat biasa layaknya sebuah tablet normal, tampil dengan layar 7 inci beresolusi 1024 x 600 pixel. ''Bila diperhatikan, tipe tombol yang digunakan bertipe on-screen,'' ungkapnya. Dari segi performa, Tablet ini bertenaga prosesor Quad Core 1.2Ghz Cortex A7 yang dipadu RAM 1GB dan memori internal 8GB, serta menjalankan OS Android 6.0 Marshmallow terbaru, belum diketahui apakah tablet ini juga dilengkapi slot ekspansi via kartu SD atau tidak. Mito T59 Fantasy Tablet disebut cocok untuk gaming, wala...